Abstract:
Potensi pertanian di Kepulauan Riau sangat besar sebab masih banyak lahan yang belum dikelola dan di
manfaatkan untuk lahan pertanian dengan baik seperti di Kabupaten Bintan. Luas panen bersih padi di
Kabupaten Bintan selama tahun 2020 hanya sekitar 3 hektar yaitu pada Kecamatan Teluk Bintan hanya berkisar
7,4% dari total seluruh lahan sawah yang ada di Kabupaten Bintan. Kabupaten Bintan hanya memiliki
kontribusi luas panen sekitar 1,52% untuk Kepulauan Riau. Salah satu faktor tidak diminati nya penanaman
komoditi padi ini dikarenakan ketersediaan irigasi dan faktor resiko lainnya. Seperti diketahui bahwa aliran
irigasi merupakan sarana yang sangat penting untuk lahan pertanian, khususnya untuk padi sawah (Bintan,
2018). Daerah Irigasi (DI) Bintan Buyu di Kabupaten Bintan adalah suatu jaringan infrasturktur yang di bangun
untuk melakukan rekayasa teknis agar dapat menyediakan dan mengatur air dalam menunjang proses produksi
pertanian di wilayah tersebut. Upaya dalam menjaga dan mengelola daerah irigasi adalah dengan melaksanakan
kegiatan operasi dan pemeliharaan, monitoring, dan evaluasi meningkatkan efisiensi dan kinerja sistem
termasuk dalam konsep pemeliharaan termasuk perbaikan. Elektronik Pengelolaan Aset dan Kinerja Sistem
Irigasi (e-PAKSI) merupakan program pengelolaan aset irigasi yang dalam pelaksanaannya melakukan penilaian
Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI) beriringan dengan Pengelolaan Aset Irigasi (PAI) dengan menggunakan
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Aplikasi e-PAKSI melalui sistem aplikasi
merupakan teknologi sebuah pendekatan termutakhir untuk dapat mengetahui kondisi aset bangunan dan
tindakan penanganan yang tepat untuk menjaga keberfungsian suatu jaringan irigasi yang mengedepankan
efisiensi dan efektifitas untuk mendukung keberlanjutan dan berkesinambungan guna mempertahankan kondisi
dan keadaan aset irigasi sesuai dengan umur rencana.