| dc.description.abstract |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi siswa dalam menggunakan ChatGPT sebagai media dukungan
emosional ditinjau dari aspek self-disclosure, trust, dan psychological safety, serta implikasinya dalam Bimbingan dan
Konseling Kolaboratif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 60 siswa
sekolah menengah atas. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang mengukur ketiga variabel utama. Analisis
data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa psychological safety memiliki nilai rata-rata tertinggi (M = 4,12), diikuti self-disclosure (M = 3,98) dan trust (M = 3,85),
yang seluruhnya berada pada kategori tinggi. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara
psychological safety dan self-disclosure (r = 0,68; p < 0,01), serta antara trust dan self-disclosure (r = 0,61; p < 0,01). Hasil
regresi menunjukkan bahwa psychological safety (β = 0,45) dan trust (β = 0,37) berpengaruh signifikan terhadap selfdisclosure, dengan kontribusi model sebesar 52% (R² = 0,52). Temuan ini menunjukkan bahwa rasa aman psikologis
merupakan faktor dominan dalam mendorong keterbukaan diri siswa dalam menggunakan ChatGPT. Secara keseluruhan,
penelitian ini mengungkap adanya pergeseran preferensi siswa dalam mencari dukungan emosional dari interaksi
interpersonal menuju interaksi berbasis teknologi. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa layanan Bimbingan dan
Konseling Kolaboratif perlu beradaptasi dengan menghadirkan lingkungan yang lebih aman secara psikologis, membangun
kepercayaan,serta mengintegrasikan teknologi sebagai bagian dari sistem dukungan yang komprehensif.. |
en_US |